0
Posted August 3, 2015 by elshandafm in News
 
 

Tak Ada Pasokan Air, Petani Enggan Tanami Lahan Produktif

SUMBER, (PRLM).- Dampak dari kekeringan berkepanjangan yang melanda wilayah Kabupaten Cirebon semakin parah. Bahkan, jelang musin tanam kedua tahun ini, petani bakal gigit jari. Hal itu dikarenakan pada musim kemarau yang terus berkepanjangan dipastikan mereka akan gagal tanam dan panen.

Selain itu, saat ini para petani dihadapkan dengan pengaruh alam yang membuat ribuan hektare lahan produktif tidak ditanami. Para petani yang nekat melakukan penanaman pun dinilai akan sia-sia.

Sekretaris Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan (Distanbunakhut) Kabupaten Cirebon, Muhidin menjelaskan, di Kabupaten Cirebon sendiri total lahan produktif yang ditanami areal sawah terdapat seluas 46 ribu hektare. Namun, pada masa tanam kedua ini, hanya 23 ribu hektare lahan yang ditanami para petani.

Sebagian areal yang ada dipastikan kekeringan akibat tidak adanya pasokan air yang mengairi lahan tersebut. “Tidak hanya itu dari 23 ribu hektare yang ditanami itu, sudah sekitar 8 ribu hektare dipastikan gagal panen karena kekeringan. Untuk luas lahan yang terimbas puso, kemungkinan besar juga akan masih bertambah bila musim kemarau tahun ini cukup panjang. Karena kebanyakan para petani pada masa tanam kedua ini baru berumur satu bulan. Sehingga masa tanam kedua bisa disebut gagal,” terang Muhidin.

Salah satu contohnya seperti yang terjadi di Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Sebanyak 318 hektare sawah di Desa Kreyo mengalami kekeringan. Menurut Ketua Serikat Petani Indonesia Basis Klangenan, Fauzan menerangkan, sebanyak 70% sawah di antaranya mengalami puso.

“Totalnya ada 318 hektare. Berdasarkan survei bulan lalu (Juli) dan 50% lahan mengalami puso. Sekarang 20% lagi sudah terancam karena tak ada pasokan air sama sekali,” kata Fauzan.

Dirinya mengakui, kondisi kekeringan yang jauh lebih buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sehingga membuat para petani merugi serta ratusan buruh tani menganggur.

Ia menyebutkan, sebanyak lima ton gabah bisa diproduksi dari setiap hektare sawah. Bila mengalami gagal panen, Fauzan memperkirakan kerugiannya minimal enam juta rupiah dari setiap hektare sawah. Seorang petani, bisa memiliki hingga beberapa hektare sawah dan memekerjakan puluhan buruh tani.

“Selama ini UPT pertanian di wilayah Klangenan tidak pernah memantau. Tidak seperti saat padi pada musim yang lagi bagus,” ujarnya.(Kabar Cirebon/A-147)***


elshandafm