Debit Air Sungai Citanduy Tinggal 4 Meter Kubik per Detik

BANJAR,(PRLM).- Musim kemarau yang berlangsung belum genap tiga bulan itu mengakibatkan debit air Sungai Citanduy semakin surut, mulai memasuki masa kritis. Saat ini debit air yang menjadi andalan pengairan ribuan hektar persawahan, hanya tersisi 4 meter kubuk perdetik.

Pantauan di Bendung Dobo, di Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Kamis (9/7/2015) di bagian bawah bendung terlihat hamparan batu, sebagian di antaranya juga berwana agak putih.

Beberapa kubangan masih menyisakan sedikit air. Sementara itu aliran air dari tembok bendung sudah tidak ada lagi yang mengalir ke bawah.

Air yang debitnya tinggal sedikit itu, seluruhnya dialirkan masuk saluran irigasi dobo. Air dari saluran irigasi tersebut guna memenuhi kebutuhan pengairan ribuan hektare persawahan di wilayah Ciamis sebelah selatan, beberapa kecamatan di Kabupaten Cilacap, Prov. Jawa Tengah serta persawahan Kabupaten Pangandaran. Meskipun seluruhnya dialirkan masuk saluran, akan tetapi tidak sampai membuat irigasi meluap.

Kondisi aliran air di bagian atas tubuh bendung yang membentang sekitar 100 meter itu, juga surut tajam, sehingga bagian dasar sungai mulai terlihat. Kecilnya debit juga menjadikan aliran air seolah tidak mengakir. warna air juga tidak terlampau jernih.

“Sudah hampir 8 minggu tidak turun hujan, debit air Citanduy menurun drastis. Saat ini hanya tinggal 4 meter kubik perdetik, padahal rata-rata normal 164 meter kubik per detik,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, Untung Budi Santoso.

Dia mengungkapkan akibat debit air yang terus menyusut, tidak semua areal persawahan mendapat pasokan air. Dari sekira 6.000 hektar persawahan yang ada di wilayah selatan, hanya 4.000 hektar yang masih mendapat pasokan air. Akibatnya sekira 2.000 hektar terancam kekeringan.

“Dengan kondisi air seperti sekarang ini, air yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk persawahan. Persawahan yang lokasinya tidak jauh dari sungai yang di sekitarnya masih menyisakan air, masih bisa diselamatkan dengan cara memompa air terseut,” tuturnya.

Untung Budi Santoso menambahkan terjadinya kerusakan lingkungan bagian hulu, mengakibatkan air Sungai Citanduy cepat susut.

Hal itu disebabkan daerah tangkapan air di bagian hulu sungai, tidak lagi mampu menyimpan cadangan air dalam waktu lama. Kondisi itu juga dipengaruhi faktor alam berupa jenis tanah yang relatif kedap air.

“Eksploitasi di bagian hulu yang tidak memerhatikan kelestarian lingkungan ikut menyumbang cepat surutnya air Sungai Citanduy. Kondisi itu juga mengakibatkan mata air banyak yang cepat kering. Salah satu upaya mengantisipasi agar debit air masih tetap tinggi adalah terjaganya kelestarian lingkungan di bagian hulu sungai,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Banjar Ade Uu Sukaeih mengungkapkan dampak kekeringan sudah mulai dirasakan masyarakat.

Saat ini sekira 550 hektar persawahan tadah hujan terancam tidak bisa diselamatkan. Alasannya karena sudah tidak tersedia air untuk mengairi persawahan tadah hujan terseut.

“Ada sekira 550 hektar tadah hujan yang, kemungkinan tidak bisa selamat, terancam mati, karena memang tidak ada sumber air untuk mengairi sawah,” kata Ade Uu Sukaesih.

Dia mengatakan berbeda dengan sawah tadah hujan, areal persawahan dengan pengairan irigasi teknis, masih dapat diselamatkan hingga masa panen. Yang menjadi persoalan, adalah lokasi persawahan tersebut memiliki saluran air, akan tetapi sudah tidak ada lagi airnya.

“Beruntung saluran irigasi yang masih memiliki sumber air. Sedangkan yang tidak lagi memiliki sumber air, saluran irigasi juga kering,” katanya.(nurhandoko wiyoso/A-89)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *