Warga Pusakanagara Desak Janji Normalisasi Sungai

SUBANG, (PRLM).- Warga Pusakanagara Kabupaten Subang mendesak berbagai pihak terkait segera melakukan normalisasi saluran sungai maupun irigasi yang sudah lama mengalami pendangkalan. Selain itu meminta pula ukuran gorong-gorong saluran air yang membelah jalan pantura segera diperbesar.

Desakan tersebut disampaikan warga karena mereka menilai, kecilnya ukuran gorong-gorong dan pendangkalan sungai maupun saluran irigasi menjadi penyebab banjir yang melanda tahun ini lebih parah di bandingkan dengan sebelumnya. Apalagi dalam musyawarah Juni tahun lalu yang dihadiri Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum maupun pihak terkait lainnya, sudah ada kesepakatan dan dijanjikan akan dilaksanakan pertengan tahun 2013, tetapi hingga kini belum juga ada realisasinya.

“Memang tahun ini curah hujannya lebih tinggi, dan ada tanggul jebol. Tapi kalau saluran sungai dan irigasi sudah dinormalisasi, serta gorong-gorong yang masuk ke jalan pantura diperbesar, genangan air tak akan separah banjir kemarin,” kata Hendra warga Pusakanagara, Subang, Minggu (9/2/2014).

Dia mengatakan pada 8 Juni tahun 2013 lalu, pernah diadakan musyawarah membahas rencana penggantian gorong-gorong yang melintas jalur jalan Pantura, termasuk normalisasi sungai. Malahan waktu itu ada kesepakatan, dan penggantiannya akan dilaksanakan akhir Agustus 2013, termasuk memindahkan pintu air pembagi. Namuh hingga tahun 2013 sudah berlalu, realisasinya tidak ada.

Mengenai desakan warga tersebut, Camat Pusakanagara, Hj. Ela Nurlela, saat dihubungi, Sabtu (8/2/2014) mengakui hal itu sudah pernah dibahas dalam musyawarah. Malahan sudah ada kesanggupan dari pihak terkait yang hadir untuk melaksanakannya, tetapi kenyataannya hingga banjir terjadi belum juga ada realisasi. Oleh karena itu, pasca terjadinya puncak banjir dirinya mengirim surat resmi yang ditujukan ke BBWSC, beberapa hari lalu. “Keinginan warga itu sangat mendesak, dan bila tidak dilakukan akan terus menjadi permasalahan kurang lancarnya air bagi 1.700 hektar sawah dan kebanjiran di musim hujan,” ujarnya.

Ela juga tak memungkiri bila belum dilaksanakan penanganan gorong-gorong dan normalisasi sungai serta irigasi menjadi penyebab kondisi banjir tahun ini lebih parah. “Paling fatal yaitu gorong-gorong saluran SS.PNK II di Dusun Simpang yang menembus jalan pantura, ukurannya sangat kecil, saat air besar jadinya tak tertampung, sehingga meluap dan menggenangi pesawahan termasuk ke jalan Negara, Pantura,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Ela, kondisi aliran sungai dan saluran irigasi yang mengalami pendangkalan membuat air cepat meluap. Sebab pendangkalan membuat daya tampung sungai dan saluran irigasi menjadi terbatas.

“Memang, 8 Juni tahun 2013 lalu pernah dibahas dalam musyawarah, yaitu penggantian gorong-gorong SS.PNK II termasuk normalisasi sungai. Malahan disepakati akan diganti akhir Agustus 2013, saluran sungai yang sudah dangkal akan dinormalisasi termasuk memindahkan pintu air pembagi kearah hilir,” katanya. Namun belum terealisasi, sehingga pihaknya mengirim surat lagi ke berbagai pihak terkait.

Mengenai banjir, dikatakannya, di Desa Kotasari ada 2 titik tanggul Sungai Cipunagara jebol, dan bronjong amblas sepanjang 40 meter. Genangan banjir melanda tujuh desa mulai Rancadaka, Mundusari, Pusakaratu, Kalentambo, Patimban dan Kotasari. “Paling parah di Desa Rancadaka akibat bobolnya tanggul Cipunagara sepanjang 50 meter hingga banjir sampai ke wilayah desa Patimban. Akibatnya ratusan rumah dan ribuan hektar sawah terendam, termasuk empang/tambak,” katanya.

Akibatnya, petani tambak udang dan bandeng mengalami kerugian milyaran rupiah karena ikan yang ditanam terbawa hanyut.(A-116/A-147)***




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *