90 Persen Bibit Gurame Mati Terserang Jamur Akibat Curah Hujan Tinggi

SUMBER, (PRLM).-Curah hujan yang masih tinggi membuat lebih dari 90 persen bibit ikan gurame di Blok Lempung Desa Cangkoak, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon mati terserang virus dan jamur. Akibatnya, pembudidaya di kawasan tersebut menderita kerugian sampai belasan juta rupiah.

Salah seorang pembudidaya Dudung (35) mengatakan, penyakit tersebut mulai menyerang sejak curah hujan bertambah dalam beberapa pekan terakhir.

“Yang banyak terserang adalah bibit ikan yang masih berukuran 2-4 sentimeter dan ukuran 6-8 sentimeter,” katanya saat ditemui, Senin (3/2/2014).

Menurut Dudung, kondisi tersebut sebenarnya terjadi setiap musim hujan. Namun tahun ini kematian ikan terjadi lebih parah akibat hujan yang selalu deras hampir setiap hari.

Jika biasanya serangan jamur tersebut mematikan kurang dari 60 persen bibit ikan, kali ini kematian bisa mencapai lebih dari 90 persen.

Dalam kondisi tersebut, Dudung kebingungan memenuhi permintaan ikan gurame dari berbagai daerah yang justru meningkat. Sementara instansi terkait di Pemerintah Kabupaten Cirebon hingga saat ini belum juga memberikan perhatian terhadap kondisi para pembudidaya ikan gurame di lokasi tersebut.

Menurut Dudung, pihaknya sudah berkali-kali melaporkan kondisi tersebut ke dinas terkait di Pemkab Cirebon. Soalnya, para pembudidaya belum juga menemukan obat yang bisa mengatasi penyakit jamur tersebut. Akibatnya, setiap tahun pembudidaya ikan harus mengalami kerugian jutaan rupiah setiap memasuki musim hujan.

Minimnya perhatian tersebut disayangkan para pembudidaya, karena mereka saat ini tengah mengembangkan potensi yang justru bisa membantu pemerintah mengurangi tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Cirebon yang masih berada di atas angka rata-rata Jawa Barat.

“Selain itu, energi pemuda juga banyak tersalurkan dalam kegiatan ini, daripada mereka terlibat tawuran dan narkoba,” ucap Dudung yang sudah sepuluh tahun menggeluti budidaya gurame dan menyerap banyak tenaga kerja muda.

Sementara itu pembudidaya lain, Udin (37) menjelaskan, potensi ekonomi usaha tersebut juga sangat tinggi. Dalam satu kolam berukuran 8×10 meter, dirinya bisa menanam 5000 bibit gurame berukuran 2-4 sentimeter yang dibeli seharga Rp 1 juta. Untuk pemeliharaan selama tiga bulan, Udin hanya membeli 30 kilogram pakan seharga Rp 275 ribu.

Setelah mencapai ukuran 6-8 sintimeter, satu ekor gurame bisa dijual seharga Rp 1500. Dengan tingkat kematian rata-rata sepuluh persen, masih ada 4500 gurame yang masih bisa terjual, sehingga hasil yang didapatkan mencapai Rp 6,75 juta.

Dengan biaya modal untuk bibit, pakan dan keperluan lain yang totalnya mencapai hanya mencapai Rp 2 juta, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp 4,75 juta per kolam berukuran 8×10 meter.

“Untuk kolam, tidak perlu permanen dengan batubata dan semen. Di pekarangan rumah pun bisa jadi kolam, hanya perlu menggunakan plastik terpal agar air tidak terserap ke dalam tanah semua,” tutur Udin yang sampai saat ini telah memiliki delapan kolam berukuran 8×10 meter dan mempekerjakan belasan pemuda di lingkungannya itu. (A-178/A-89)***




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *